MAKALAH
EKOSISTEM
MANGROVE
FATHAN
ZUHAD YOPHA P.
L021 18
1335
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
DEPARTEMEN
PERIKANAN
FAKULTAS
ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
karunia, taufik, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga “Makalah tentang Ekosistem
Mangrove” dapat terselesaikan. Tidak lupa pula senantiasa kita panjatkan
salawat serta salam kepada junjungan dan penuntun kita Muhammad SAW. Dalam
tahap penyusunan makalah ini, tidak terlepas dari berbagai kendala yang
menghambat penyusunan. Namun berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak,
sehingga kendala dan halangan tersebut dapat teratasi.
Makalah ini
berisi tentang pengertian ekosistem mangrove, komponenkomponen penyusun
ekosistem mangrove, peranan ekosistem mangrove terhadap kehidupan, kerusakan yang terjadi pada ekosistem
mangrove, dan cara untuk melestarikan ekosistem mangrove.
Dalam
penyusunan makalah ini, disadari bahwa masih terdapat kekurangan karena di
dunia ini tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat saya harapkan. Walaupun demikian, saya tetap berharap
makalah ini dapat memberikan manfaat. Amin
Makassar,
28 Oktober 2019
Fathan
Zuhad Yopha Putra
DAFTAR ISI
Sampul
Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
Bab 2. Pembahasan
2.1 Komponen-komponen penyusun ekosistem mangrove
2.2 Peranan ekosistem mangrove
2.3 Kerusakan yang terjadi pada ekosistem mangrove
2.4 Cara melestarikan ekosistem mangrove
Bab 3. Penutup
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekosistem
mangrove adalah suatu lingkungan yang mempunyai ciri khusus karena lantai
hutannya secara teratur digenangi oleh air yang dipengaruhi oleh salinitas
serta fluktuasi ketinggian permukaan air karena adanya pasang surut air laut
(Duke, 1992). Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forestcoastal woodland,
vloedbos dan hutan payau (Kusmana
dkk., 2005) yang terletak di perbatasan antara darat dan laut, tepatnya di
daerah pantai dan di sekitar muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut
air laut (Sumaharni, 1994). Menurut Kusmana dkk., (2005) hutan mangrove adalah
suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang
terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang waktu air laut pasang dan
bebas dari genangan pada saat air laut surut, yang komunitas tumbuhannya
toleran terhadap garam. Adapun ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang
terdiri atas organisme yang berinteraksi dengan faktor lingkungan di dalam
suatu habitat mangrove.
Adapun
ciri-ciri dari hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :
memiliki jenis pohon yang relatif sedikit; memiliki akar yang unik misalnya
seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil
pada pidada Sonneratia spp. dan pada
api-api Avicennia spp.; memiliki biji
(propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya
pada Rhizophora; memiliki banyak
lentisel pada bagian kulit pohon. Sedangkan tempat hidup hutan mangrove
merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah : tanahnya tergenang air laut secara
berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang; tempat tersebut
menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat; daerahnya terlindung dari
gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat; airnya berkadar garam
(bersalinitas) payau (2-22 ‰).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Apa
komponen-komponen penyusun ekosistem mangrove?
2. Apa
peranan ekosistem mangrove terhadap kehidupan manusia?
3. Apa
penyebab kerusakan yang terjadi pada ekosistem mangrove?
4. Bgaimana
cara melestarikan ekosistem mangrove?
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Mampu
mengetahui komponen-komponen penyusun ekosistem mangrove.
2. Mengetahui
peranan ekosistem mangrove terhadap kehidupan.
3. Mengetahui
kerusakan yang terjadi pada ekosistem mangrove.
4. Mengetahui
cara melestarikan ekosistem mangrove.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Komponen-Komponen
Penyusun Ekosistem Mangrove
Komponen-komponen
penyusun ekosistem mangrove terdiri dari 2 komponen yaitu komponen biotik dan
komponen abiotik. Komponen biotik terdiri dari:
1. Produsen yaitu organism yang
bisa membuat makanannya sendiri (autotropik) karena memiliki butir-butir
klorofil sehingga mapu melakukan proses fotosintesis. Secara sepintas dapat
dilihat bahwa ekosistem mangrove dipenuhi oleh
tumbuhan pepohonan berhijau daun, diantaranya yaitu: Aegiceras corniculatum, Avicennia alba,
Avicennia officinalis, Bruguiera
clyndrica, Bruguiera hainessii, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Excoecaria
agallocha, Lumnittzera littorea, Lumnitzera racemosa, Nypa fruticans,
Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Schyphypora hydrophyllacea,
Sonneratia alba, Sonneratia ovate, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus
moluccensis. Di dalam kawasan ekosistem mangrove yang selalu tergenang air
kemungkinan dapat ditemukan fitoplankton atau plankton nabati. Plankton adalah
mikroorganisme atau larva yang melayang dalam air, tidak dapat bergerak
sendiri, atau daya geraknya lemah sehingga mudah terpengaruh oleh gelombang
atau arus air. Beberapa fitoplankton laut diantaranya adalah: Asterionella, Amphiphora, Bacillaria, Coscinodiscus,
Dytilum, Eucampia, Guinardia, Hemiaulus,
Licmophora, Mastogloia, Nitzschia, Planktoniella, Pleurosigma, Rhizosolenia,
Skeletonema, Surirella, Thalassionema, Thalassiosira, (Diatom),
Amphisolenia, Ceratium, Ceratocorys,
Dinophysis, Gonyauulax, Gymnodinium, Noctiluca, Ornithocerus, Peridinium, Prorocentrum,
dan Pyrocycistis (Dianoflagellata).
2. Konsumen yaitu organism yag
tidak dapat membuat makanannya sendiri (heterotropik) sehingga harus mengambil
makannya dari organisme produsen. Di dalam ekosistem mangrove, organisme
konsumen terdiri atas:
a. Zooplankton atau plankton
hewani, misalnya: Tintinnopsis, Dyctiota,
Rhabdonella, Globigerina, Aulosphaera, (protozoa), Calanus, Centropages, Oithona, Euchaeta, Evadne, Pyrocypris, Lucifer (crustacean), Clione, Carinaria, Janathina (moluska),
dan beberapa larva ikan yang masih bersifat planktonik (iktioplankton).
b. Bentos
yaitu organism yang hidup di dasar ekosistem mangrove. Bentos dapat dibedakan
atas epifauna (hidup di atas permukaan dasar) dan infauna (hidup membenamkan
diri di dalam dasar).
c. Neuston yaitu organism yang
hidup pada daerah permukaan air.
d. Perifiton
yaitu organism yang hiodup pada batang, daun, atau akar tumbuhan yang
terdapat di dalam ekosistem mangrove.
e. Nekton yaitu organism yang
dapat berenang masuk ke dalam dan keluar dari kawasan ekosistem mangrove.
2.2 Peranan Ekosistem
Mangrove
Ekosistem
mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan, mempunyai peranan fungsi
multi guna baik jasa biologis, ekologis maupun ekonomis. Peranan fungsi fisik
mangrove mampu mengendalikan abrasi dan penyusupan air laut (intrusi) ke
wilayah daratan, serta mampu menahan sampah yang bersumber dari daratan, yang
dikendalikan melalui sistem perakarannya. Jasa biologis mangrove sebagai
sempadan pantai, berperan sebagai penahan gelombang, memperlambat arus pasang
surut, menahan serta menjebak besaran laju sedimentasi dari wilayah atasnya.
Selain itu komunitas mangrove juga merupakan sumber unsur hara bagi kehidupan
hayati (biota perairan) laut, serta sumber pakan bagi kehidupan biota darat
seperti burung, mamalia dan jenis reptil. Sedangkan jasa mangrove lainnya juga
mampu menghasilkan jumlah oksigen lebih besar dibanding dengan tetumbuhan
darat.
Peranan
fungsi ekologis kawasan mangrove yang merupakan tempat pemijahan, asuhan dan
mencari makan bagi kehidupan berbagai jenis biota perairan laut, di sisi lain
kawasan mangrove juga merupakan wahana sangtuari berbagai jenis satwa liar,
seperti unggas (burung), reptil dan mamalia terbang, serta merupakan sumber
pelestarian plasma nutfah.
Manfaat
ekonomis mangrove, juga cukup memegang peranan penting bagi masyarakat, karena
merupakan wahana dan sumber penghasilan seperti ikan, ketam, kerang dan udang,
serta buah beberapa jenis mangrove dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
Manfaat lainnya merupakan sumber pendapatan masyarakat melalui budidaya tambak,
kulit mangrove bermanfaat dalam industri penyamak kulit, industri batik, patal
dan pewarna jaring, serta sebagai wahana wisata alam, penelitian dan
laboratorium pendidikan.
2.3 Kerusakan pada Ekosistem
Mangrove
Kerusakan
ekosistem mangrove lebih disebabkan oleh akibat kegiatan manusia (antropogenik)
baik secara langsung maupun tidak langsung. Kawasan mangrove umumnya berada
pada pesisir dan keberadaannya terancam oleh kebutuhan masyarakat yang berada
di sekitarnya. Kebutuhan itu dapat berupa pemanfaatan lahan untuk pemukiman,
sebagai lahan kegiatan ekonomi seperti industry maupun pertambakan, dan
kebutuhan bahan bakar non-migas. Kebutuhan-kebutuhan itu memaksa masyarakat
untuk melakukan banyak hal yang dapat merusak hutan mangrove seperti membuka
dan menkonversi lahan serta penebangan liar.
Kerusakan-kerusakan
dapat menurunkan fungsi-fungsi mangrove baik secara bio-ekologis berupa
rusaknya sistem maupun fungsi ekonomis berupa penurunan produksi. Kesalahan
manajemen hutan mangrove juga berpotensi besar terhadap degradasi fungsi mangrove. Ada beberapa dampak yang akan
muncul sebagai akibat aktivitas manusia pada atau sekitar wilayah mangrove
antara lain yaitu :
1. Tebang
habis berdampak terhadap berubahnyakomposisi tumbuhan, pohon-pohon mangrove
akan digantikan oleh spesies-spesies yang nilai komersialnya rendah dan terjadi
penurunan fungsi sebagai feeding, nursery, psawning ground.
2. Pengalihan
aliran air tawar misalnya pada pembangunan irigasi berdampak pada peningkatan
salinitas dan penurunan kesuburan mangrove.
3. Konversi
lahan menjadi pertanian, perikanan dan pemukiman dapat mengancam regenerasi
stok ikan udang di perairan lepas pantai, terjadinya pencemaran laut oleh
pencemar yang sebelumnya diikat oleh substrat mangrove. Terjadi pendangkalan
pantai, abrasi, dan inutrisi air alut.
4. Pembuangan
sampah cair berdampak pada penurunan kandungan oksigen, munculnya gas H2S.
5. Pembuangan
sampah padat memungkinkan tertutupnya pneumatopor yang berakibat kematian
mangrove dan perembesan bahan-bahan pencemar dalam sampah padat.
6. Pencemaran
dengan tumpahan minyak menyebabkan kematian mangrove.
7. Penambangan
dan ekstraksi mineral baik dalam hutan maupun daerah sekitar hutan menyebabkan
kerusakan total ekosistem mangrove
sehingga menghancurkan fungsi bio-ekologis mangrove dan terjadinya
pengendapan sedimen yang berlebihan yang menyebabkan kemtian mangrove.
Kerusakan
alami merupakan akibat lanjut dari kerusakan akibat kegiatan antropogenik.
Terpaan ombak yang terus-menerus akan merusak ekosistem mangrove. Akan tetapi,
hal ini tidak akan terjadi apabila tidak terjadi penurunan fungsi mangrove
sebagai penahan gelombang akibat kegiatan manusia.
2.4 Melestarikan Ekosistem
Mangrove
Ekosistem
mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara restorasi atau rehabilitasi.
Restorasi dipahami sebgai usaha mengembalikan kondisi lingkungan kepada kondisi
semula secara alami. Campur tangan manusia diusahankan sekecil mungkin terutama
dalam memaksakan keinginan untuk menumbuhkan jenis mangrove tertentu menurut
yang dipahami/diingini manusia. Dengan demikian usaha restorasi semestinya
mengandung makna member jalan/peluang terhadap alam untuk mengatur/memulihkan
dirinya sendiri. Kita manusia sebagai pelaku mencoba membuka jalan dan peluang
serta mempercepat proses pemulihan terutama karena dalam beberapa kondisi,
kegiatan restorasi secra fisik kan lebih murah dibandingkan kita memaksakan
penanaman mangrove secara langsung.
Restorasi
perlu dipertimbangkan ketika suatu system telah berubah dalam tingkat tertentu
sehingga tidak dapat lagi memperbaiki atau memperbaharui diri secara alami.
Dalam kondisi seperti ini, ekosistem homeostasis telah berhenti secara permanen
dan proses normal untuk suksesi tahap kedua atau perbaikan secara alami setelah
kerusakan terhambat oleh bebagai sebab.
Secara
umum habitat bakau dapat memperbaiki kondisinya secara alami dalam waktu 15-20
tahun jika :
1. Kondisi
normal hidrologi tidak terganggu
2. Ketersediaan
biji dan habitat serta jaraknya tidak terganggu atau terhalangi.
Jika
kondisi hidrologi adalah normal atau mendekati normal tetapi biji bakau tidak
dapat mendekati daerah restorasi, maka dapat direstorasi dengan cara
penanaman. Oleh karena itu, habitat
bakau dapat diperbaiki tanpa penanaman, maka rencana restorasi harus terlebih
dahulu melihat potensi aliran air laut yang terhalangi atau tekanan-tekanan
lain yang mungkin menghambat perkembangan bakau.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari makalah tentang ekosistem mangrove ini yaitu:
1. Komponen
penyusun dari ekosistem mangrove yaitu komponen biotic dan komponen abiotik.
2. Ekosistem
mangrove memiliki penanan biologis, ekologis, dan ekonomis
3. Kerusakan
ekosistem mangrove diakibatkan oleh kegiatan manusia dan faktor alami yaitu
tsunami.
4. Ekosistem
mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara restorasi atau rehabilitasi.
3.2 SARAN
Dalam penyusunan makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya memerlukan kritik dan saran dari berbagai pihak sehingga makalah ini menjadi lebih baik dan bermanfaat
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2012.
Ekosistem Mangrove. USU: Medan
Anonymous. 2010.
Identifikasi Flora Fauna Kawasan Hutan Mangrove. USU: Medan
Anonymous. 2005.
Konservasi Kawasan Ekosistem Mangrove. USU: Medan
Rahmawaty. 2006. Upaya
Pelestarian Mangrove Berdasarkan Pendekatan Masyarakat.
USU: Medan
LAMPIRAN
Istilah
– istilah dalam Ekosistem Mangrove :
Laguna : Sekumpulan air asin yang
terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau
semacamnya.
Lentisel :
Jaringan berpori yang terdiri dari sel-sel dengan ruang interseluler yang besar
di periderm
dari organ menebal kedua dan kulit batang dan akar tanaman dikotiledon.
Komunitas: Seluruh populasi
yang hidup bersama di suatu darah dan saling berinteraksi satu sama lain. Contoh :
komunitas hutan yang terdiri dari populasi rumput, kawanan populasi rusa dan
populasi ular.
Habitat: Tempat hidup suatu
makhluk hidup dengan lingkungan tertentu yang sesuai.
Komensalisme: Hubungan
antara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk
berbagi sumber makanan.
Benthos: Hewan dan tumbuhan
yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau
bergerak bebas.
Litoral: Daerah yang
berbatasan dengan darat.

Komentar
Posting Komentar